Energi Terbarukan: Harapan Besar, Realisasi Lambat
Energi terbarukan bukan sekadar slogan. Ini soal kemandirian, keadilan, dan masa depan. Kalau terus lambat, dunia akan tinggalkan kita—bukan karena kita tak bisa...
Indonesia punya segalanya. Matahari bersinar sepanjang tahun, angin bertiup di berbagai wilayah, dan perut bumi menyimpan panas luar biasa. Tapi ironisnya, mayoritas listrik kita masih berasal dari batu bara dan bahan bakar fosil.
Padahal, dunia sedang ngebut beralih ke energi bersih. Sementara kita? Masih sibuk menyusun strategi, launching roadmap, dan bikin wacana. Realisasinya? Jauh tertinggal.
Potensi Besar di Atas Kertas
Berdasarkan data Kementerian ESDM:
- Tenaga Surya: 200.000 MW
- Panas Bumi: 23.000 MW
- Tenaga Air: 75.000 MW
- Angin, Bioenergi, Laut: ribuan MW
Namun hingga 2024, pemanfaatan EBT baru sekitar 12–13% dari bauran energi nasional.
“Kita ini seperti orang punya sawah luas tapi hanya menanam di pojok kecil. Sementara kita terus beli beras dari tetangga.”
— Pengamat energi terbarukan
Masih Dikuasai Energi Kotor
Sekitar 60% pembangkit listrik nasional masih menggunakan batu bara. EBT hanya bagian kecil—dan sebagian besar masih dari PLTA dan panas bumi lama.
Teknologi surya dan angin? Masih minim:
- PLTS skala besar hanya di Bali, Kupang, Cirata
- PLTB beroperasi di Sidrap dan Jeneponto
Kenapa Lambat?
1. Investasi Minim
Iklim investasi EBT belum kondusif. Kepastian regulasi lemah, tarif jual listrik kurang menarik, dan PLN belum agresif menyerap energi EBT.
2. Tarif Belum Kompetitif
Meski biaya teknologi turun, harga beli listrik EBT masih dianggap tinggi. Banyak pengembang ragu masuk.
3. Infrastruktur Lemah
Wilayah kaya EBT ada di timur, tapi konsumsi listrik tinggi di barat. Jaringan transmisi belum terintegrasi.
“Potensi EBT kita ada di wilayah timur. Tapi konsumsi listrik terbesar di Jawa dan Sumatera. Jaringan listriknya belum terhubung.”
— Direktur lembaga riset energi
4. Perizinan Berbelit
Untuk satu proyek EBT, bisa dibutuhkan belasan izin dari berbagai lembaga. Ini memperlambat eksekusi.
Negara Lain Sudah Melaju
- Vietnam: ekspansi PLTS besar-besaran
- India: tarif surya menurun drastis
- China: pengguna & produsen PLTS terbesar dunia
Rwanda dan Kenya bahkan ekspor listrik bersih. Indonesia? Masih di tahap “komitmen”.
Pemerintah Sebenarnya Punya Target
Target bauran EBT: 23% pada 2025. Realisasi saat ini: ±13%. Pemerintah mendorong:
- PLTS atap
- Transisi PLTU
- Kemitraan transisi energi (JETP)
“JETP seharusnya jadi titik balik. Tapi kalau kita masih tarik ulur soal PLTU dan tidak mempermudah pengembang EBT, hasilnya akan minim.”
— Aktivis energi bersih, Jakarta
Rakyat Mau, Sistem Belum Dukung
Masyarakat sudah terbuka pada energi bersih:
- Banyak rumah pakai PLTS atap
- Sekolah desa mulai pakai panel surya
- Komunitas pakai biogas
Tapi dukungan sistem masih kurang: biaya tinggi, sistem net metering PLN belum optimal, dan edukasi terbatas.
Bagaimana dengan Biofuel B40?
Salah satu bentuk energi terbarukan yang sedang digencarkan pemerintah adalah biofuel berbasis sawit. Program B40—yakni pencampuran 40% biodiesel (FAME) ke dalam solar—ditargetkan menjadi lanjutan dari B35 yang sudah berjalan sejak awal 2023.
Tujuannya jelas: mengurangi impor solar, meningkatkan nilai tambah sawit dalam negeri, dan menekan emisi. Dari sisi teknis, beberapa uji jalan dan pengujian emisi sudah dilakukan. Namun, implementasi nasionalnya masih dalam tahap persiapan penuh.
Masih ada tantangan soal ketersediaan bahan baku, distribusi, serta kesiapan mesin kendaraan. Namun pemerintah berkomitmen agar B40 bisa dijalankan secara luas mulai akhir 2025, terutama di sektor transportasi dan industri.
“Biofuel seperti B40 adalah jembatan menuju transisi energi. Tapi harus dipastikan bahan bakunya berkelanjutan dan tidak memicu konflik lahan.”
— Peneliti energi terbarukan, Bogor
Apa Solusinya?
- Permudah perizinan proyek EBT
- Berikan insentif fiskal dan tarif menarik
- Bangun infrastruktur transmisi EBT
- Dorong BUMN-swasta sinergi
- Siapkan SDM energi bersih
- Roadmap dan target yang tegas
Penutup: Jangan Sampai Ketinggalan Lagi
Energi terbarukan bukan sekadar slogan. Ini soal kemandirian, keadilan, dan masa depan. Kalau terus lambat, dunia akan tinggalkan kita—bukan karena kita tak bisa...

Komentar
Posting Komentar