Kereta Cepat Whoosh: Lebih dari Sekadar Transportasi, Ini Etalase Bangsa


Terlalu menyederhanakan proyek seperti Whoosh hanya dalam logika untung rugi jangka pendek akan mengkerdilkan visi besar bangsa.

Gila, Kereta Cepat Whoosh itu bukan cuma gerbong berjalan super ngebut, Bro/Sis! Ini tuh kayak "etalase toko paling keren punya Indonesia".

Coba deh bayangin. Kita punya ruang tamu di rumah. Fungsinya jelas buat duduk-duduk. Tapi kenapa kita rela nyicil sofa mahal bertahun-tahun? Bukan cuma biar nyaman, tapi juga biar kelihatan "wah, punya selera, gengsi, dan prestise". Sama kayak beli iPhone mahal padahal HP murah juga bisa buat nelpon atau WA-an. Ini bukan cuma soal fungsi, tapi tentang "identitas, simbol kemajuan, dan kebanggaan".

Nah, Whoosh itu sama persis. Jangan cuma dilihat sebagai alat transportasi doang. Ini tuh showcase kemajuan bangsa. Memang sih, proyek ini dari awal udah bikin geger, mulai dari biayanya yang bikin jantungan, utang numpuk, sampai pertanyaaan "bakal balik modal gak ya?".

Tapi, kalau cuma ngelihat untung-rugi doang, itu namanya pikiran sempit banget.

Bukan Cuma Tiket, Ada Manfaat Gede Lainnya!

Banyak yang ngebandingin duit dari tiket Whoosh sama biaya pembangunannya yang lebih dari Rp. 100 triliun. Tapi coba deh kita mikir, apa untungnya Amerika Serikat pas mereka berhasil ngedaratkin manusia di bulan lewat proyek Apollo 11? Secara langsung, sih, proyek itu gak bikin duit. Tapi:

"rasa bangga, supremasi teknologi, dan rasa percaya diri nasional—itu semua gak bisa diukur pakai duit."

Apollo 11 itu bikin dunia ngelihat Amerika beda banget.

Sama kayak ibu-ibu sosialita yang arisan naik mobil mewah dan tas branded. Bukan soal efisiensi, tapisoal status, prestise, dan gaya hidup yang jadi pernyataan sosial.

Proyek-proyek infrastruktur gede kayak Whoosh ini emang seringnya gak dibuat cuma buat nyari untung. Fungsi utamanya itu buat mancing atau jadi pemicu ekonomi. Ibarat bendungan, dia gak langsung bikin duit, tapi ngasih air buat pertanian. Jalan tol juga gak langsung bikin kantong tebel, tapi bikin distribusi barang jadi lebih cepet dan murah. Bandara, pelabuhan, semua itu dibangun buat nyiptain efek domino (multiplier effect) yang bisa bikin ekonomi gerak dalam jangka panjang.

Apa Itu Multiplier Effect dan Kenapa Penting?

Multiplier effect itu gampangnya, efek lanjutan yang timbul gara-gara ada sebuah proyek. Kalau di Whoosh, artinya keberadaan dia bikin banyak peluang ekonomi baru: perumahan baru di deket stasiun, peluang investasi di properti sama pariwisata, sampai UMKM di sekitar jalur atau stasiun kereta cepet jadi ikutan tumbuh.

Contohnya nyata? Coba deh lihat daerah sekitar Stasiun Halim dan Tegalluar. Sejak ada Whoosh, harga tanah langsung melonjak gila-gilaan. Developer mulai bangun perumahan baru sama pusat bisnis. Di Bandung, daerah Tegalluar yang tadinya sepi, sekarang mulai dilirik investor.

Artinya, Whoosh itu bukan cuma "kereta mahal", tapi juga pemantik pergerakan ekonomi.

Siapa Sih yang Bakal Untung dari Whoosh?

Whoosh ini sasarannya segmen khusus: orang-orang yang PP (pulang-pergi) antar kota, turis, sama pengusaha menengah ke atas. Dengan waktu tempuh cuma 45 menit dari Jakarta ke Bandung, efisiensi waktu jadi nilai jual utamanya. Dulu, perjalanan bisa sampai 3 jam atau lebih, tergantung macetnya tol. Sekarang, banyak profesional yang bisa tinggal di Bandung tapi kerja di Jakarta, atau sebaliknya, tanpa harus buang-buang waktu dan tenaga.

Ini cocok banget sama tren global urbanisasi dan konektivitas regional. Lihat aja Jepang sama Shinkansen-nya atau Prancis sama TGV-nya—kereta cepat itu bukan cuma alat transportasi, tapi cara buat memperluas mobilitas masyarakat kelas menengah ke atas dan ngurangin beban kota besar.

Menurut Menteri BUMN Erick Thohir, sepanjang periode 2019-2023, Whoosh telah berkontribusi sebesar Rp 86,5 triliun terhadap PDRB Jawa Barat dan Jakarta. Ini adalah angka periode pra-operasional (konstruksi) hingga awal operasional Whoosh. Artinya, ini adalah akumulasi kontribusi selama fase pembangunan dan awal operasional.

Pada April 2025, KCIC mengumumkan total penumpang Whoosh telah mencapai 9 juta sejak awal beroperasi (Oktober 2023). Tingginya jumlah penumpang ini, dengan sebagian besar (55%) melakukan perjalanan untuk tujuan berlibur, menunjukkan dampak signifikan pada pariwisata.

Meskipun sulit diukur langsung dalam rupiah secara spesifik, penggunaan kereta cepat dapat mengurangi beban lalu lintas jalan raya, potensi kecelakaan, dan emisi karbon. KCIC mengklaim Whoosh berkontribusi menekan carbon footprint hingga 54 persen.

Utang dan Biaya: Wajar Kok Buat Proyek Jangka Panjang

Khawatir soal utang pembangunan itu wajar. Tapi inget ya, pembangunan infrastruktur gede di negara manapun itu hampir selalu dibiayai pakai utang atau investasi jangka panjang. Jalan tol Trans Jawa, MRT Jakarta, sampai Bandara Soekarno-Hatta juga dulu dikritik karena mahal—tapi sekarang jadi infrastruktur penting banget yang gak tergantikan.

Kereta cepat Whoosh dibangun lewat kerja sama Indonesia-China lewat PT KCIC, dengan pembiayaan dari BUMN dan pinjaman dari China Development Bank. Proyek ini diprediksi bakal balik modal (BEP) dalam 40 tahun. Lama? Iya, tapi wajar untuk infrastruktur publik yang dipake lintas generasi.

Menurut data Bappenas, proyek ini diperkirakan nyumbang 0,1% ke PDB nasional per tahun, itu belum termasuk dampak gak langsungnya kayak konektivitas yang makin bagus, investasi di daerah sekitar, dan pariwisata yang meningkat.

Dampak ekonomi dari infrastruktur besar bersifat multiplier effect. Artinya, satu rupiah yang diinvestasikan atau dibelanjakan di sektor kereta cepat dapat menciptakan lebih dari satu rupiah di sektor ekonomi lain, dan pelacakan seluruh rantai ini sangat kompleks.

Kebanggaan Nasional: Sesuatu yang Gak Bisa Dibeli

Satu hal yang sering kita lupa itu nilai kebanggaan nasional. Indonesia itu negara pertama di Asia Tenggara yang punya kereta cepat. Ini jadi simbol kalau Indonesia gak ketinggalan dari negara-negara maju soal teknologi dan infrastruktur.

Anak-anak sekolah sekarang bisa mimpi jadi insinyur kereta cepat. Generasi muda bisa ngelihat langsung teknologi canggih di tanah airnya sendiri, gak cuma di film atau buku.

"Efek psikologis ini mungkin tak bisa diukur dengan rupiah, tapi sangat berpengaruh terhadap cara kita memandang masa depan negeri ini."

Tantangan yang Harus Dilakuin

Tentu aja, Whoosh bukan tanpa masalah. Harga tiket yang dianggap mahal (sekitar Rp150.000–Rp250.000 sekali jalan), rute yang terbatas (cuma Jakarta-Bandung), dan kurangnya integrasi transportasi lanjutan dari stasiun ke pusat kota itu beberapa tantangan nyata. Pemerintah dan operator harus terus berinovasi biar layanan ini makin inklusif dan efisien.

Solusinya? Bisa dengan subsidi silang, pengembangan jaringan lanjutan (misalnya perpanjangan ke Surabaya), serta peningkatan integrasi antar moda transportasi kayak LRT, MRT, dan bus kota. Ini bagian dari proses adaptasi yang wajar dalam proyek skala besar.

Yuk, Lihat Lebih Luas!

Kereta Cepat Whoosh itu bukan cuma moda transportasi cepat antara dua kota. Ia adalah simbol kemajuan, pemicu pertumbuhan ekonomi, dan medium untuk meningkatkan kebanggaan nasional. Sama kayak ruang tamu rumah kita yang pengen ditata rapi bukan cuma biar nyaman, tapi juga biar enak dipandang dan bikin bangga.

"Terlalu menyederhanakan proyek seperti Whoosh hanya dalam logika untung rugi jangka pendek akan mengkerdilkan visi besar bangsa."

Karena pada akhirnya, membangun bangsa adalah tentang menanam benih hari ini untuk dipetik generasi mendatang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Runtuhnya Dominasi Dolar Amerika

Bahasa Melayu sebagai Azimat, Antara Kebanggaan, Politik, dan Keberanian Menggunakannya

Saat Ringgit Naik, Indonesia Yang Panen Untung dari Malaysia