Siapa Paling Diuntungkan dari Sistem Energi Indonesia?
Setiap liter BBM, setiap kWh listrik, dan setiap proyek energi mengalirkan uang dalam jumlah besar. Siapa yang paling diuntungkan? Negara? Perusahaan? Rakyat?
Energi adalah kebutuhan dasar. Tapi sistem energi kita bukan cuma soal pasokan atau harga. Ia juga soal kekuasaan, kendali, dan keuntungan.
Setiap liter BBM, setiap kWh listrik, dan setiap proyek energi mengalirkan uang dalam jumlah besar. Siapa yang paling diuntungkan? Negara? Perusahaan? Rakyat? Artikel ini akan membedahnya.
Dari Hulu ke Hilir: Aliran Energi, Aliran Uang
Rantai energi panjang: dari eksplorasi, produksi, distribusi, hingga ke rumah tangga. Di tiap tahap, ada pemain, biaya, risiko, dan margin keuntungan.
- Hulu: Perusahaan swasta & BUMN migas
- Pengolahan: Kilang, pembangkit, pabrik bioenergi
- Distribusi: PLN, Pertamina, PGN
- Konsumen: Rakyat, industri, bisnis kecil
“Energi seperti sungai besar yang mengalirkan uang. Tapi hanya sedikit yang bisa menampung airnya.”
— Pemerhati kebijakan energi
Negara: Pengatur Sekaligus Pemain
Pemerintah memegang banyak peran—baik sebagai regulator maupun pemilik BUMN energi. Negara dapat dividen, pajak, dan PNBP, tapi juga harus menanggung subsidi dan investasi.
Namun dalam praktiknya, negara sangat dipengaruhi efisiensi internal dan fluktuasi global.
BUMN: Pengelola, Tapi Tak Selalu Untung
BUMN seperti Pertamina dan PLN punya tanggung jawab besar. Tapi karena dibebani fungsi sosial (PSO), laba mereka tidak selalu mencerminkan besarnya operasi.
“Sering kali publik kira BUMN selalu untung. Padahal banyak di antaranya bekerja dalam tekanan kebijakan.”
— Mantan eksekutif sektor migas
Swasta: Pemain di Balik Layar?
Swasta aktif di berbagai lini: kontraktor migas, pembangkit listrik, bioenergi, dan logistik. Mereka lebih fleksibel dan sering memperoleh margin lebih tinggi.
Beberapa perusahaan swasta besar bahkan punya kedekatan dengan elite politik, menjadikan mereka aktor penting meski jarang muncul di depan layar.
Rakyat: Konsumen, Tapi Bukan Pemilik
Rakyat selalu jadi ujung: membayar BBM, listrik, dan gas. Subsidi memang ada, tapi sering tidak tepat sasaran. Partisipasi rakyat dalam kebijakan energi juga sangat minim.
“Kami selalu disuruh hemat. Tapi yang menikmati bonus, fasilitas, dan proyek besar bukan kami.”
— Warga pelanggan listrik di Kalimantan Tengah
Proyek Energi: Siapa yang Diuntungkan?
Proyek energi bernilai triliunan. Tapi siapa dapat kontraknya? Siapa mengatur lahannya? Siapa ambil untungnya? Rakyat hanya menerima dampak sekilas, bukan kendali.
“Kalau bicara proyek energi, yang kita lihat papan proyek besar. Tapi rakyat setempat hanya dapat upah harian.”
— Aktivis lingkungan lokal
Politik Energi: Arena Kekuasaan dan Kepentingan
Politisi, partai politik, dan DPR memainkan peran penting dalam energi:
- DPR mengatur anggaran energi dan proyek strategis
- Partai politik mengatur siapa duduk di kursi menteri dan komisaris
- Banyak proyek energi dibahas lebih banyak secara politik ketimbang teknis
Tak heran jika Kementerian ESDM dan BUMN sering jadi rebutan dalam pembentukan kabinet. Menguasai dua kementerian ini berarti bisa mengakses pengaruh besar dan proyek bernilai triliunan.
“Kalau kamu bisa atur ESDM dan BUMN, kamu bisa atur energi dan bisnisnya. Dan itu artinya pengaruh, kekuasaan, dan uang dalam jumlah besar.”
— Wartawan senior bidang politik & energi
Saat logika politik lebih dominan dari pelayanan publik, energi berubah dari hak rakyat menjadi alat kekuasaan.
Subsidi: Rakyat Terbantu, Tapi Banyak yang “Menikmati Lebih”
Subsidi energi sering tidak tepat sasaran:
- BBM subsidi dinikmati kendaraan pribadi
- Gas 3 kg dijual bebas ke restoran dan pedagang besar
- Listrik murah untuk rumah mewah berdaya kecil
Rakyat kecil sering kali justru berebut sisa subsidi atau terkena dampak keterlambatan distribusi.
Energi Terbarukan: Peluang Baru, Tapi Elite Lama?
Transisi ke energi bersih seharusnya jadi kesempatan untuk memperbaiki pola. Tapi jika tetap dikendalikan aktor lama, maka polanya hanya berganti baju.
Harus ada perubahan mendasar: dari eksklusif menjadi inklusif, dari elite menjadi rakyat.
Jadi, Siapa Paling Diuntungkan?
Yang paling untung:
- Elite bisnis: dekat sumber keputusan, nikmati margin besar
- Pemerintah: dapat pendapatan, tapi juga menanggung beban
- Rakyat: konsumen tetap, tapi paling kecil suaranya
“Di sistem energi kita hari ini, yang paling untung adalah mereka yang berada dekat dengan sumber keputusan. Rakyat tetap bayar di ujung.”
— Analis kebijakan publik
Energi Harusnya Milik Bersama
Selama energi hanya jadi rebutan elite, rakyat akan terus jadi penonton. Kita butuh sistem yang transparan, adil, dan berpihak. Karena energi adalah hak, bukan hadiah.
Transisi energi bukan hanya soal panel surya dan mobil listrik, tapi soal siapa yang pegang kendali. Dan sudah waktunya rakyat ambil peran lebih besar.

Komentar
Posting Komentar