IKN Bukan Proyek Jokowi, Tapi Visi Besar Bangsa



IKN, Ibu Kota Nusantara bukan sekadar proyek fisik—ini adalah langkah berani menuju Indonesia yang lebih adil, modern, dan merata. Mengapa harus sekarang? Dan apa dampaknya bagi masa depan kita?

Bayangkan sebuah kota masa depan yang hijau, modern, dan menjadi simbol pemerataan Indonesia. Sebuah kota yang bukan hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga pemantik pertumbuhan ekonomi baru, membuka jutaan lapangan kerja, dan mendistribusikan pembangunan yang selama ini terlalu Jawa-sentris. Inilah gambaran besar dari Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.

Proyek pemindahan ibu kota dari Jakarta ke IKN memang menuai pro dan kontra. Tapi, untuk benar-benar memahami urgensinya, kita perlu keluar dari riuh politik dan melihat lebih jernih: mengapa Indonesia butuh IKN sekarang, bukan nanti? Apa dampaknya bagi negara secara ekonomi? Apakah utang negara akan membengkak atau justru terbayar dengan manfaat jangka panjang?

Jakarta Sudah Terlalu Penuh, Terlalu Berat

Jakarta adalah jantung ekonomi, tapi juga pusat segala beban. Kota ini menampung lebih dari 10 juta orang di siang hari, mengalami kemacetan kronis, polusi tinggi, penurunan permukaan tanah, dan ancaman banjir setiap tahun.

Menurut data Bappenas, biaya penanganan banjir dan penurunan tanah Jakarta bisa mencapai ratusan triliun rupiah. Bahkan jika Jakarta dibenahi habis-habisan, beban yang diembannya sebagai pusat segalanya tetap akan menciptakan ketimpangan.

IKN: Mewujudkan Pemerataan yang Selama Ini Jadi Retorika

Sekitar 58% ekonomi Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa, meski wilayah ini hanya mencakup 7% dari total luas Indonesia. Ketimpangan ini menandakan bahwa pembangunan belum merata.

Pemindahan ibu kota ke IKN bukan sekadar simbolis. Ini adalah strategi konkret untuk membangun pusat gravitasi baru di luar Jawa.

Dengan hadirnya IKN, aktivitas pemerintahan, investasi swasta, dan infrastruktur akan menyebar. Ini akan memacu pertumbuhan kota-kota di Kalimantan, Sulawesi, hingga Indonesia Timur.

Dampak Langsung: Lapangan Kerja, Infrastruktur, dan Ekonomi

Studi dari Oxford Economics memperkirakan pembangunan IKN bisa menciptakan lebih dari 4,5 juta lapangan kerja langsung dan tidak langsung hingga tahun 2045.

IKN juga akan menjadi pusat investasi teknologi dan smart city. Pemerintah menargetkan penggunaan energi terbarukan, transportasi listrik, dan tata kota digital. Semua ini adalah daya tarik bagi investor asing dan domestik.

Kritik Itu Wajar, Tapi Mari Jernihkan Argumen

Beberapa kritik terhadap IKN memang berbasis kekhawatiran yang masuk akal: soal lingkungan, pendanaan, dan masa depan Jakarta. Namun tak sedikit pula kritik yang bersifat politis atau bahkan personal terhadap Presiden Jokowi.

Misalnya, ada yang menyebut IKN hanyalah "proyek ambisi pribadi Jokowi". Namun perlu dicatat, ide pemindahan ibu kota sudah muncul sejak era Presiden Soekarno.

Soal lingkungan? Justru IKN dirancang sebagai kota hutan. Sekitar 75% wilayahnya akan tetap menjadi kawasan hijau dan konservasi.

Dan bagaimana dengan argumen “Jakarta lebih baik diperbaiki saja daripada pindah”? Faktanya, Jakarta tetap akan diperkuat sebagai kota global: pusat keuangan, bisnis kreatif, dan diplomasi internasional.

Hutang untuk IKN: Beban atau Investasi?

Dari total kebutuhan Rp466 triliun, hanya sekitar 20% berasal dari APBN. Sisanya melalui skema KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) dan investasi swasta.

Hingga pertengahan 2025, lebih dari Rp135 triliun investasi swasta telah masuk. Proyek KPBU juga berjalan melalui skema availability payment—pembayaran baru dilakukan setelah proyek beroperasi.

Seperti halnya proyek jalan tol atau pelabuhan, pembangunan IKN adalah bentuk investasi jangka panjang. Manfaatnya akan membayar kembali dalam 10–20 tahun ke depan.

Tanpa IKN, beban Jakarta akan terus membesar dan ketimpangan makin dalam. Itu justru warisan yang lebih menyulitkan generasi mendatang.

Jakarta Tetap Penting, Tapi Tak Bisa Sendiri

Pemerintah juga menyiapkan RUU Kekhususan Jakarta untuk menjamin peran barunya. Jakarta akan menjadi seperti New York: pusat ekonomi dan bisnis, sementara IKN adalah Washington DC-nya Indonesia.

Pusat-pusat pertumbuhan baru akan muncul: Medan, Makassar, Surabaya, Jayapura—tidak semuanya harus menggantung pada Jakarta.

Visi IKN 2045: Indonesia Masa Depan

  • Kota modern berbasis digital dan energi terbarukan.
  • Pemerintahan efisien dan terintegrasi secara teknologi.
  • Kawasan hijau luas, udara bersih, transportasi bebas emisi.
  • Universitas internasional, pusat riset global, industri kreatif teknologi.
  • Bukti bahwa Indonesia bisa membangun dengan adil dan berkelanjutan.

Penutup: Membangun Bukan Soal Siapa, Tapi Untuk Siapa

IKN bukan sekadar proyek Presiden Jokowi. Ini proyek sejarah. Presiden boleh berganti, tapi visi besar ini harus dilanjutkan jika kita serius ingin membangun negara yang adil dan merata.

Setiap pemindahan ibu kota pasti kontroversial. Tapi jika dijalankan dengan visi, transparansi, dan keberpihakan pada rakyat, maka IKN bisa menjadi momentum emas Indonesia.

Dan bukankah itulah yang selalu kita impikan? Indonesia yang lebih seimbang, modern, adil, dan hijau. IKN adalah langkah awal menuju ke sana.

Deddy K.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Runtuhnya Dominasi Dolar Amerika

Bahasa Melayu sebagai Azimat, Antara Kebanggaan, Politik, dan Keberanian Menggunakannya

Saat Ringgit Naik, Indonesia Yang Panen Untung dari Malaysia